film

Jumat, 24 Mei 2013

Pentingnya Pengenalan terhadap anak didik dalam pendidikan



MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PENTINGNYA PENGENALAN TENTANG ANAK DIDIK DALAM PENDIDIKAN










Yang di susun oleh :
*      SITTI ROYATUL KHALILAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA ( STKIP PGRI SUMENEP )
Tahun Akademik : 2012 / 2013


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puja dan puji  syukur kehadirat ilahi rabbi yang telah memberikan taufik dan hidayah-hidayahNya yang berupa kesehatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan makalah Psikologi Pendidikan dengan tema” Pentingnya Pengenalan Tentang Anak didik  dalam Psikologi pendidikan” . Bakat motivasi dan dorongannya dari dosen pengampu yang tiada lelah dan letih supaya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu .
            Shalawat berangkaikan salam semoga  tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah  dari zaman nota menuju zaman toyota,dari zaman kurma menuju zaman toyota ,dan yang telahn menangkis kita dari jurang kemistaan menuju alam beradab.
            Dan ucapan terimakasi  kepada dosen pengampu ,dan teman –teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini .Banyaknya air dilaut tidak menggambarkan rasa maaf yang tiada terkira apabila ada kekeliruan dan kesalahan apabila terdapat dalam penulisan makalah ini ,karna kesempurnaan hanya milik Allah SWT .Apabila ada kekuranga itu datangnya dari kami sedangkan kelebihan sematamata datang dari Allah SWT,saran dan kritik kami harapkan supaya dapat membangun kami menjadi orang yang lebih baik dimasa depan.

SUMENEP, 10 APRIL 2013

PENULIS


i

DAFTAR ISI
Halaman Judul...........................................................................................................................i
Kata Pengantar.........................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
BAB I      PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................................2
BAB II            TINJAUANPUSTAKA......................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN
A.    Pentingnya pengenalan tentang anak didik    ...............................................................4
B.     Mengenal Pada Diri Masing-masing Anak Didik       ...................................................5
C.     Perbedaan-Perbedaan Individual        ...........................................................................7
BAB IV PENUTUP
·         Kesimpulan     .............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA





ii

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai  orang tua kita ingin memberika memberikan pendidikan yang terbaik pada anak-anak kita.dan hal itu dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya memilihkan sekolah yang baik buat anak-anak kita, mendidik anak sejak dini sebelum masuk ke jenjang pendidikan formal ,menberikan contoh atau uswah yang baik, menerapkan pola-pola berfikir ,dan berprilaku yang baik didalam maupun diluar rumah. Seorang anak adalah amaah yang harus dipertanggungjawwabkan disetiap orangtua,di arahkan yang baik atau buruk semua ini tergangtung kemanpuan dan pengetahuan orangtua dalam mendidik dan membimbing anaknya kejalan yang lebih baik demi terwujudnya cita-cita bersama yaitu bahagia didunia dan di akhirat.Anak-anak itu, seperti juga anak-anak lainnya,relatif  berbeda dalam keripibadian sebagaimana yang tampak dalam penampilan dan cara berfikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing, para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tak pernah memiliki respons yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar disekolah.keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani , intelegensi, dan keterampilan motor/jasmaniah anak-anak itu,seperti juga anak-anak lainnya, relatif berbeda dalan berkepribadian sebagaimana yang tampak dalam berpenampilan dan cara berfikir atau memecahkan masalah  mereka masing-masing.Pendidikan selain merupakan prosedur juga merupaka lingkungan yang menjadi tempat terlibatnya individu yang saling berinteraksi .Dalam interaksi antar individu  ini baik antar guru dengan para siswa maupun antar siswa dengan siswanya,terjadi proses dan peristiwa psikologis. Peristiwa dan proses psikologi  ini sangat perlu untuk dipahami dan dikadikan landasa oleh para guru dalam memperlakukan para siswa secara tepat.


1

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah memperkenalkan anak akan pendidikan yang sangat penting untuk masa depan dan kelangsungan kehidupannya?
2.      Bagaimana memperkenalkan pendidikan pada masing – masing anak didik?
3. Bagaimana cara seorang guru dan orang tua dalam mendidik anak karena setiap anak berbeda dari segala macam?

C.    TUJUAN
1.      Agar dapat menyadari akan kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya untuk dapat memperbaikinya.
2.      Supaya dapat mengenal cara – cara memperkenalkan pendidikan terhadap anak didik.
3.  Supaya seorang guru dan orangtua dalam mendidik anak membeda-bedakan antara satu anak dengan yang lain.










2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
              Para ahli psikologi pendidikan pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tak pernah memiliki respons yang sama persis terhadap situasi belajar-mengajar di sekolah. Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani, intelegensi, dan keterampilan motor/jasmaniah. Anak-anak itu, seperti juga anak-anak lainnya, relatif berbeda dalam berkepribadian sebagaimana yang tampak dalam penampilan dan cara berpikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing.
            pendidikan merupakan iteraksi antara pendidikan dengan peseta didik,untuk mmencapai tujuan pendidikan ,yang berlanggsung dalam dunia pendidikan.interaksi pendidikan berfungsi membantu pengenbangan seluruh potensi,kecakapan dan karakteristik peserta didik ,baik yangg berkenan dengan segi intelektual,sosial,afektif, maupun fisik metodik .Perbuatan mendidik di arahkankan pada  pencapaian tujuan sekarang dan yang akan datang, untuk kepentingan dirinya dan masyarakat,baik sebagai pribadi,warga masyarakat,maupun karyawan.
Dick dan Carey ( 1990 ) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan yang di gunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang  akan di sampaikan kepada peserta didik.





3

BAB III
PEMBAHASAN
A . PENTINGNYA PENGENALAN TENTANG ANAK DIDIK
            Salah satu tujuan dari pendidikan adalah menolong anak mengebabkan potensinya semaksimal mungkin , dan karena itu pendidikan sangat mengutungkan baik bagi anak maupun masyarakat .Anak didik memandang sekolah sebagai mencarinya sumber “ bekal “  yang akan menbuka dunia bagi mereka .Orang tua memandang sekolah sebagai tempat dimana  anaknya akan mengembangkan kemampuan. Pemerintah berharap agar sekolah akan mempersiapkan  anak untuk memjadi warga negara yang baik dan cakap. Bimbingan merupakan sebagian dari pendidikan, yang menolong anak tidak hanya mengenal diri serta kemanpuan tetapi juga mengenal dunia disekitarnya. Dalam hal ini agar dapat menolong anak ia harus dikenal dalam segala aspeknya dan dalam konteks( situasi ) hidupnya dimana ia hidup.Tanpa pengenalan tidap mungkin kita membuat rencana yang efektif untuk mengadakan perubahan dalam diri anak tersebut. Bimbingan yang benar yang berhasil harus didasarkan pengenalan terhadap dan tentang anak didik yang di bimbingannya.
Hasil penelitian para pakar psikologi pendidikan dan ahli – ahli instruksional menemukan bahwa otak kanan anak belum banyak di libatkan dalam proses pembelajaran. Kurikulum pendidikan di Indonesia belum menyentuh bagaimana menggali potensi siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran banyak bersifat konstruktif dengan menekankan pada gambaran dominan kognitif. Hal ini bisa terlihat dari sistem pendidikan kita yang masih lebih banyak mengandalkan hafalan dan ukuran keberhasilan siswa di tentukan oleh bagaimana kemampuan siswa menuliskan jawaban atau memilih pilihan jawaban secara objektif dari masalah yang di hadapkan kepada siswa.
Dikatakan pula bahwa proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa dengan pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran namun pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasil lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah di amati. mengajar di artikan dengan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang untuk belajar.
4

B . MENGENAL PADA DIRI MASING-MASING ANAK DIDIK
Dalam hal mendidik anak didik, kita harusmengenal dan memahami hal-hal yang terdapat pada semua anak tanpa terkecuali dan hal-hal yang unik dan khusus. Dlam hakekat islam anak adalah amanah anak memiliki keterkaitan realitas empiris sensual dan trancenderal faktor-faktor yang mendukung dalam berkembang pendidikan anak didalam pengenalan anak didik dalam psikologi.Diantaranya
1.      Empiris Sosial Psikologi
Empiris sosisal ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak didalam ataupun di luar rumah yang sangat berpengaruh dalam perkendalian pendidikan anak adalah keluarga. Keluarga adalah komponen utama yang membina dan membentuk anak menjadi yang lebih baik. Kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua membantu pendidikan dalam rumah tangga sangatlah penting dalam pengenalan anak didik.

 Orang tua adalah ujung tombak keluarga dalam mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki oleh seorang anak, baik itu perrkembangan fisik manpun perkembangan di bidang keilmuan. Orang tua yang mengarahkan anak mau dijadiakn seperti apa anak kita? Ketika ornang tua dari awal sudah salah mendidik dan membimbing anak maka ketika tumbuh berkembang akan tumbuh seperti didikan orang tuanya yang salah.
2.      Empiris Trancendel
Dalam perkembangan empirirs trancendel ini guru adalah ujung tombak dalam mengatur, mengarahkan dan membimbing anak didik ke jalan yang lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan ynag telah dicanangkan  bersama.
 Anak adalah seorang yang berada pada sesuatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi menjadi dewasa. Dalam hal ini seorang guru mengenal anak didiknya agar tujuan pendidikan yand dicanagkan bersama  dapat terealisasi dengan baik di lingkungan masyarakat.
                                                                        5
 Teori yang menyatakan bahwa perkembangan seorang individu akan ditentukan oleh empirisnya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Menurut teori ini individu yang dilahirkan itu seperti kertas putih bersih yang belum ada tulisannya yanng dikemukakan oleh John Mocke. Tulisan itu akan ada seiring dengan penagalaman hidup mereka sesuai dengan apa yang diperbuat (apa yang salah dan apa yang benar ). Dalam diri seorang anak pasti ada kecenderungan untuk mementingkan dirinnya sendiri dari pada orang lain. Tapi jiwa seorang amat berharga sampai ada ungkapan dari orang tua ketika melihat anaknya terluka ( lebih baik aku yang sakit dan terluka dari pada kamu anakku ).
3.      Anak pada Hakikatnya Baik
Hakikatnya seorang anak itu baik, tetapi seirirng perjalanan waktu akan terpenagruh oleh lingkungan baik itu di rumah, sekolah dan tempat bermain. Anak itu bagaikan sebuah bintang yang bersinar tetapi akan redup ketika orang tua dan guru kurang memberikan didikan yang baik. Ketika seorang anak berperilaku menyimpang atau nakal, berarti ada masalah dalam pendidikan dan pengalaman yang dia peroleh seperti kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya karena kesibukan masing-masing, sehingga anak bertingkah menyimpang untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Dan juga di sekolah umpanya dia dikucilkan atau tidak mendapatkan perrhatian dan arahan yang baik dari pendidik maka akan berakibat dalam kehidupan di lingkungan masyarakat. Tetapi ketika seorang anak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang baik dari orang tua ataupun pendidik maka seorang anak akan berprilaku yang baik sesuai dengan pengalaman ditambah ilmu pengetahuan yangg diperolehnya.

4.      Kebutuhan Pokok Anak
Setiap anak mempunyai kebutuhan pokok yang berbeda-beda dengan kebutuhan pokok orang dewasa. Kebutuhan pokok anak masih bersifat emosinal dan bermain, ketika kebutuhan pokok anak tidak terpenuhi maka akan terjadi masalah tertentu. Anak biasanya jarang mempedulikan soal makan tetapi makan snack/makanan ringan yang selalu diinginkan kebutuhan pokok anak seperti halnya : kesenangan bermain permainan, kesenagan akan makanan yang disukainya, kecenderungan dengan teman bermainnya.
                                                                        6
 Orang tua harus jeli dalam memenuhi kebutuhan pokok anak. Ababila orang tua mampu mengerti akan kebutuhan pokok anak yang di kemas dengan kegiatan yang dilakukan sehari-hari ditambah dengan ilmu pengetahuan maka anak akan tambah berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Kebutuhan pokok anak dibagi atas tiga aspek : 1. kebutuhan jasmani, 2. kebutuhan rohani ( pscyhologis ), 3. kebutuhan rohani.
5.      Anak Didik Tidak Boleh Diukur oleh Kemampuan Pendidikan
Seorang pendidik adalah ujung tombak perkembangan anak selain orang tua untuk menjalani kehidupan di masa depan. Seorang pendidik dituntut kesabaran dan keuletan dalam mendidik seorang anak karena setiap anak memilki potensi-potensi yang berbeda. Seorang guru harus bisa memberikan pelajaran yang mudah dipahami dan diperhatikan oleh seorang anak didik. Seorang anak didik pasti memilki tinkat kebosananyangb berbeda dalam hal menerima pelajaran di dalam kelas.
Dalam menyuntikkan pelajarannya, harus dengan cara yang menyenangkan supaya dapat diserap dengan baik oleh seorang anak memilki tingkat kemampuan dalam menerima pelajaran ke otaknya. Ada yang mudah menyerap pelajaran, sedang dan ada yang sulit menyerap pelajaran. Jadi seorang pendidik tidak boleh menyamakan dirinya dengan seorang anak didik dalam mentrasnfer ilmunya meskipun anak tersebut pandai.
C. PERBEDAAN – PERBEDAAN INDIVIDUAL
Setiap anak mempunyai perbedaan baik dari segi fisik, emosi, rohani maupun kecerdasan. Kepribadian dan motivasi cenderung menentukan penyesuaian diri dan performansi akademik anak, seperti halnya : beberapa siswa tidak mau mengambil resiko mencoba menghadapi tugas – tugas ataupun sesuatu yang baru karena takut gagal dan salah. Itu adalah pemikiran yang sangat dangkal yang harus bisa diubah,  oleh seorang pendidik dengan cara yang kreatif dan dapat memotivasi anak untuk mencoba sesuatu yang baru supaya tidak takut gagal dan salah.
Oleh karena itu kegagalan, sesuatu yang sangat indah karena dengan kegagalan itu kita tidak dapat menyerah dan ingin mencobanya lagi. Fikiran setiap anak didik berbeda
7

dalam menangkap sesuatu yang baru,bias positif ataupun negative, maka peran dan motivasi seorang pendidik dapat mempengaruhinya. Yang sesuai dengan tujuan pendidikan mencerdaskan anak bangsa, cerdas bukan hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. Menurut Attinson dan Feather mengembangkan modal yang sangat berguna untuk menjelaskan disintegrasi motivasi siswa untuk berhasil belajar ketika pengalaman belajar masa lampau menyebabkan merasa tak senang dan takut akan gagal. Dari McCelland dikenal dengan teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Achievement  ( N.Ach ) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda – beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Menurut McCelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi ( high achievers ) memiliki tiga ciri umum yaitu :
1.      Sebuah presensi untuk mengerjakan tugas – tugas dengan derajat kesulitan moderat.
2.      Menyukai situasi _ situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya – upaya mereka sendiri, dan bukan karena factor – factor lain, seperti kemujuran misalnya.
3.      Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, di bandingkan dengan mereka yang berprestasi tinggi.
Factor – factor penting dari kepribadian dan motivasi yang mempengaruhi keberhasilan dalam situasi belajar ;
1.      Self concept ( konsep diri )
2.      Locos of control ( pengendalian terhadap sesuatu )
3.      Kecemasan yang dialam oleh anak didik
4.      Motivasi hasil belajar
Menurut freud ( calvin S.  Hall & Lindzey, 1993 ) self atau ego merupakan eksekutif untuk mengontrol tindakan ( prilaku 0 dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan hal – hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal – hal yang terdapat dalam dunia luar. Rogers mengemukakan tentang konsep selfyang merupakan gabungan dari tiga unsur :
1.      Bagaiamnan seseorang atau orang lain meliha tentang dirinya.
2.      Bagaiman kenyataan tentang dirinya
3.      Apa yang di cita – citakan tentang dirinya.
8

Telah di kemukakan diatas bahwa self melibatkan kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita – cita. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita – citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, terutama kesehatan mentalnya. Begitu pula, setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. Sikap akan di wujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya, sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak akan keadaan dirinya. Sikap terhadap dirinya berkaitan dengan pembentukan harga diri ( penilaian diri ), yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Betapa pentingnya setiap orang untuk dapat membangun dan memenuhi kebutuhan harga diri secara realistic, melalui pengembangan segenap potensi yang dimilikinya hingga menjadi sebuah prestasi. Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab besar untuk dapat memenuhi kebutuhan harga diri anak (siswanya), melalui pemberian kasih sayang yang tulus sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sehat, yang didalamnya terkandung perasaan harga diri yang stabil dan mantap. Disinilah, tampak arti penting peran orang tua dan guru sebagai fasilitator.
Persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk mendapatkan gambaran umum tentang dirinya yang berkembang sesuai dengan umur dan pengaruh lingkungan. Menurut Rotter, Locus of control mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi eksternal dan dimensi internal. Dimensi eksternal akan menganggap bahwa tanggung jawab segala perbuatan itu berada di luar diri si pelaku. Orang tua yang dominan, terlalu melarang, mengecam, mengakibatkan orang tuanya mempunyai sifat gerogi, curiga, dan rasa permusuhan. Sedangkan dimensi internal melihat bahwa tanggung jawab segala perbuatan itu berada pada diri sendiri si pelaku.
 Orang tua yang sangat mendorong, membantu, mengharap anak segera dapat berdiri sendiri di usia muda, yang membuat kecemasan menggambarkan keadaan emosional yang dikaitkan dengan ketakutan. Jenis ketakutan:
1.      Takut akan situasi sekolah
2.      Takut aspek khusus lingkungan sekolah
3.      School phobia
9
Kecemasan dapat dirasakan oleh setiap anak didik, seperti anak pandai akan gelisah ataupun cemas ketika akan menghadapi ujian atau teks tidak terkecuali anak yang sedang dan kurang pandai. Rasa cemas hilang, ketika orang tua dapat memberikan dorongan atau motivasi. Attinson dan feather (1966) menyatakan bahwa situasi kompetitif timbul karena: keinginan untuk berhasil dan keinginan untuk tidak gagal.



                       















10
BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Pentingnya pengenalan anak didik dalam psikologi pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital untuk kita bahasbersama.Anak mempunyai intuisi untuk menangkap suasana, dari cara orang tua bergaulin tuk menujuTuhan,  Anak akan menangkap keberadanTuhan.Pengenalan pendidikan tidak hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani supaya proses belajar akan tercapai tujuan dari pendidikanya itu bahagia di duniadan di akhirat dengan memilik iilmu dan pengetahuan yang luas dan bermanfaat. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita di hadapkan dengan sejumlah karakteristik siswa yang beranekaragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajar mengalami kesulitan. Kesulitan belajar siswa di tunjukkan oleh adanya hambatan – hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiolis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang di capainya berada di bawah semestinya.Dalam pengenalan pendidikan seorang guru ataupun orang tua biasa mengenalkannya sejak kecil dalam kehidupannya.












                                                                        11

DAFTAR PUSTAKA

Yudhawati, Ratna, S.Psi., M.Psi. & Dany Haryanto, S.S. 2011. Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Islamuddin, Haryu. 2011. Psikologi Pendidikan. Jember: STAIN Jember Press.
Drs. Soemanto, Wasty, M.Pd. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Prof. Dr. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.



















iii

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar